Candi Karangnongko adalah sebuah candi yang terletak di tengah areal persawahan di pusat Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten. Terdapat area persawahan yang begitu luas dan di dalam area persawahan terdapat area candi yang dituju yaitu Candi Karangnongko. Minimnya tempat untuk parkir kendaraan sedikit menjadi kesulitan ketika membawa kendaraan pribadi, solusinya ya harus menumpang untuk menitipkan sesaat di dekat rumah warga setempat. Lanjut ke lokasi dengan menyusuri pematang sawah yang ada dengan mengikuti tanda penunjuk ke arah candi, namun harap berhati-hati ketika berjalan di atas pematang sawah, karena sempit dan licin, jika tidak ingin tergelincir ke sawah.
Candi Karangnogko ini memiliki latar belakang agama Hindu, yang saat ini masih berupa reruntuhan. Di dekat Candi Karangnongko tepatnya dengan menyusuri kembali jalan menuju ke bawah dari luar area pagar candi akan terdapat berupa sumur, menurut warga sekitar sumur ini bernama Sumur Bandung, dan sumur tersebut masih ada kaitannya dengan cerita tokoh Bandung Bondowoso. Sumur yang ada di dekat candi ini memiliki mata air yang jernih. Adanya sumur tersebut juga dimanfaatkan dengan baik oleh mayarakat untuk melakukan aktivitas kebutuhan sehari-hari. Bangunan yang berada di situs ini berukuran sekitar 3 x 3 meter persegi dengan tinggi sekitar lebih kurang setengah meter.
Fakta yang mengatakan candi ini Hindu adalah adanya lingga. Di sekitar candi induk juga ada candi perwara yang turut menemani candi induk yang merupakan susunan bebatuan. Tidak begitu banyak informasi yang didapat dari adanya candi ini. Semoga ke depannya candi-candi seperti candi Karangnongko bisa menjadi salah satu warisan dunia yang patut dipertahanakan. Sebagai warga negara yang baik alangkah baiknya tidak hanya berkunjung ke situs yang sudah terkelola saja agar dunia tahu Indonesia itu kaya.
Jumat, 07 September 2018
Kamis, 06 September 2018
Candi Merak
Candi Merak tepatnya berada di padukuhan Candi,desa Karangnongko,kabupten Klaten,provinsi Jawa Tengah. Menurut Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah luas kompleks candi Merak sekitar 2.000 meter persegi.
Candi Merak terdiri dari satu candi induk yang menghadap ke timur dan tiga candi perwara yang semua menghadap ke barat ke arah candi induk. Candi induk berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 8,38 x 8,38 m,tinggi 12 meter.
Candi Merak berukuran panjang 155 cm dan lebar 160 cm. Pipi tangga berukuran panjang 230 cm dan lebar 252 cm.Di dalam Candi Merak terdapat Lingga Yoni yang berada di dalam bilik candi utama. Selain Lingga Yoni terdapat pula arca Durga yang menempati relung utara dan Ganesha yang berada di relung barat. Selain itu terdapat arca-arca lain di sekitar halaman candi Merak seperti Nandi dan dewa-dewa lain dalam agama Hindu ,sesuai sifatnya yakni candi Hindu.
Menurut salah seorang petugas penunggu , candi ini dibuat pada zaman Mataram Kuna.Pada masa Wangsa Syailendra yang menganut agama Hindu Syiwa.Pertama kali ditemukan sekitar tahun 1925. Saat itu candi berada pada sebidang lahan yang ditumbuhi sebatang pohon Joho raksasa. Rupanya rimbunnya pohon Joho menyebabkan banyak burung Merak bertengger dan tidur di atas pohon setiap hari. Saking tuanya umur pohon Joho , suatu ketika pohon tersebut roboh.Dibawah perakaran pohon besar itu ternyata tersimpan reruntuhan sebuah candi yang ditemukan berupa arca dan bebatuan.Candi yang ditemukan saat itu belum memiliki nama,mengingat pohon Joho yang tumbuh kala itu dijadikan “rumah” burung Merak maka sebagai tetenger candi tersebut dinamakan “Candi Merak”
Kondisi candi Merak saat ini telah terlihat indah pasca pemugaran .Pemugaran candi dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah dengan dana APBD Provinsi Jawa Tengah. Kronologi pemugaran dimulai dari bagian kaki selesai dipugar pada tahun 2007 ,sedangkan bagian tubuh candi selesai dipugar pada tahun 2010. Sementara bagian atap candi rampung dipugar pada tahun 2011.
Candi Merak sejatinya tidak kalah manakala dibadingkan dengan candi-candi yang sepantaran pembuatannya seperti candi Sewu, candi Prambanan, dan candi Plaosan. Bahkan, konon candi ini seusia dengan candi Bima yang ada di Kompleks candi Dieng. Prakiraan ini atas dasar adanya kudhu dan kala makara di candi Merak yang identik dengan yang ada di candi Bima di wilayah dataran tinggi kabupaten Wonosobo tersebut.
Barangkali ,diperlukan promosi dan publikasi secara terencana,terpadu serta berkelanjutan oleh para pihak terkait guna memperkenalkan benda cagar budaya berupa candi yang ada di Karangnongko ini .Banyak metode untuk itu salah satunya dilaksanakannya event pergelaran budaya secara berkala di komplek candi Merak.Akses menuju candi cukup bagus didukung infrastruktur jalan aspal serta berada dekat pusat pemerintahan kecamatan Karangnongko.
Menurut Arie Item DM warga setempat yang menulis dalam akun jejaring sosial bahwa sepertinya keberadaan candi Merak belum banyak dikenal wisatawan,dan sebenarnya wilayah kecamatan Karangnongko memiliki dua candi disamping Merak yang satu lagi namanya candi Bandung,terletak kurang lebih 500 meter di selatan SMPN 1 Karangnongko, imbuhnya.
Di eksposenya candi Merak nan indah sebagai salah satu destinasi pariwisata cagar budaya di kabupaten Klaten diharapkan akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di sekitarnya,yang bermuara pada peningkatan derajat kesejahteraan masyarakat.
Candi Merak terdiri dari satu candi induk yang menghadap ke timur dan tiga candi perwara yang semua menghadap ke barat ke arah candi induk. Candi induk berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 8,38 x 8,38 m,tinggi 12 meter.
Candi Merak berukuran panjang 155 cm dan lebar 160 cm. Pipi tangga berukuran panjang 230 cm dan lebar 252 cm.Di dalam Candi Merak terdapat Lingga Yoni yang berada di dalam bilik candi utama. Selain Lingga Yoni terdapat pula arca Durga yang menempati relung utara dan Ganesha yang berada di relung barat. Selain itu terdapat arca-arca lain di sekitar halaman candi Merak seperti Nandi dan dewa-dewa lain dalam agama Hindu ,sesuai sifatnya yakni candi Hindu.
Menurut salah seorang petugas penunggu , candi ini dibuat pada zaman Mataram Kuna.Pada masa Wangsa Syailendra yang menganut agama Hindu Syiwa.Pertama kali ditemukan sekitar tahun 1925. Saat itu candi berada pada sebidang lahan yang ditumbuhi sebatang pohon Joho raksasa. Rupanya rimbunnya pohon Joho menyebabkan banyak burung Merak bertengger dan tidur di atas pohon setiap hari. Saking tuanya umur pohon Joho , suatu ketika pohon tersebut roboh.Dibawah perakaran pohon besar itu ternyata tersimpan reruntuhan sebuah candi yang ditemukan berupa arca dan bebatuan.Candi yang ditemukan saat itu belum memiliki nama,mengingat pohon Joho yang tumbuh kala itu dijadikan “rumah” burung Merak maka sebagai tetenger candi tersebut dinamakan “Candi Merak”
Kondisi candi Merak saat ini telah terlihat indah pasca pemugaran .Pemugaran candi dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah dengan dana APBD Provinsi Jawa Tengah. Kronologi pemugaran dimulai dari bagian kaki selesai dipugar pada tahun 2007 ,sedangkan bagian tubuh candi selesai dipugar pada tahun 2010. Sementara bagian atap candi rampung dipugar pada tahun 2011.
Candi Merak sejatinya tidak kalah manakala dibadingkan dengan candi-candi yang sepantaran pembuatannya seperti candi Sewu, candi Prambanan, dan candi Plaosan. Bahkan, konon candi ini seusia dengan candi Bima yang ada di Kompleks candi Dieng. Prakiraan ini atas dasar adanya kudhu dan kala makara di candi Merak yang identik dengan yang ada di candi Bima di wilayah dataran tinggi kabupaten Wonosobo tersebut.
Barangkali ,diperlukan promosi dan publikasi secara terencana,terpadu serta berkelanjutan oleh para pihak terkait guna memperkenalkan benda cagar budaya berupa candi yang ada di Karangnongko ini .Banyak metode untuk itu salah satunya dilaksanakannya event pergelaran budaya secara berkala di komplek candi Merak.Akses menuju candi cukup bagus didukung infrastruktur jalan aspal serta berada dekat pusat pemerintahan kecamatan Karangnongko.
Menurut Arie Item DM warga setempat yang menulis dalam akun jejaring sosial bahwa sepertinya keberadaan candi Merak belum banyak dikenal wisatawan,dan sebenarnya wilayah kecamatan Karangnongko memiliki dua candi disamping Merak yang satu lagi namanya candi Bandung,terletak kurang lebih 500 meter di selatan SMPN 1 Karangnongko, imbuhnya.
Di eksposenya candi Merak nan indah sebagai salah satu destinasi pariwisata cagar budaya di kabupaten Klaten diharapkan akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di sekitarnya,yang bermuara pada peningkatan derajat kesejahteraan masyarakat.
Candi Kunden
Situs Candi kunden berada di dusun kunden sumberejo, klaten selatan, Klaten Jawa Tengah. situs ini berupa sebuah petirtaan yang merupaakan sebuah pamandian suci bagi umat budha dan hindu. namun untuk situs kunden kurangbisa dipastikan dahulu petirtaan ini digunakan oleh umat hindu atau budha.
Situs Candi Kunden berada di bawah tanah sebuah persawahan dan tepat di pinggir kali kecil. yang sungguh disayangkan tentu saja keberadaannya yang tidak bisa terlihat secara jelas apa bila dilihat dari jalan raya dan tidak adanya papan petunjuk dan informasi tentang keberadaan letak dari situs kunden tersebut.
Situs Candi Kunden berbentuk huruh U dengan ukuran 4 x 1 meter dan diantara reruntuhan batu candi di situs kunden ini terdapat sebuah relung arca yang berada tepat di tengah-tengah petirtaan. mengenai arca apa yang dahulu berada di relung tersebut, sudah tidak bisa dipastikan lagi sebab kini arca tersebut sudahtidak bisa diketahui keberadaannya.
Situs Candi Kunden ini juga masih di gunakan sebagai tempat keramat oleh warga sekitar ataupun warga pendatang dengan adanya beberapa dupa dan bunga-bunga sesaji di antara tumpukan batu-batu candi yang sebagian terbuat dari batu andersite terdapat beberapa batu batua kuno di dalamnya. kurang jelas kegunaan batu bata kuno tersebut. namun bisa dipastikan dahulu bangunan petirtaan ini menggunakan bahan baku batu andersite dan batu bata.
Candi ini pertama kali ditemukan oleh Jarot Wibowo alias Bowo saat mencari garangan (nama hewan liar) di sawah. Dia segera memberitahu temannya dan sepakat melakukan penggalian esok harinya. Rabu penggalian sudah dimulai dan nampak bangunan candi berwujud leter L, membujur ke utara 4 meter dan ke barat 1 meter. Menurut Bowo tiga hari sebelum ditemukannya candi itu, dia selalu merasa ingin ke tempat itu. Bowo tidak tahu alasannya, seolah-olah ada magnet yang menariknya bila mengacu pada candi-candi lain yang ditemukan di Klaten, diperkirakan bangunan itu peninggalan dari abad 8 sampai 9.
Situs Candi Kunden berada di bawah tanah sebuah persawahan dan tepat di pinggir kali kecil. yang sungguh disayangkan tentu saja keberadaannya yang tidak bisa terlihat secara jelas apa bila dilihat dari jalan raya dan tidak adanya papan petunjuk dan informasi tentang keberadaan letak dari situs kunden tersebut.
Situs Candi Kunden berbentuk huruh U dengan ukuran 4 x 1 meter dan diantara reruntuhan batu candi di situs kunden ini terdapat sebuah relung arca yang berada tepat di tengah-tengah petirtaan. mengenai arca apa yang dahulu berada di relung tersebut, sudah tidak bisa dipastikan lagi sebab kini arca tersebut sudahtidak bisa diketahui keberadaannya.
Situs Candi Kunden ini juga masih di gunakan sebagai tempat keramat oleh warga sekitar ataupun warga pendatang dengan adanya beberapa dupa dan bunga-bunga sesaji di antara tumpukan batu-batu candi yang sebagian terbuat dari batu andersite terdapat beberapa batu batua kuno di dalamnya. kurang jelas kegunaan batu bata kuno tersebut. namun bisa dipastikan dahulu bangunan petirtaan ini menggunakan bahan baku batu andersite dan batu bata.
Candi ini pertama kali ditemukan oleh Jarot Wibowo alias Bowo saat mencari garangan (nama hewan liar) di sawah. Dia segera memberitahu temannya dan sepakat melakukan penggalian esok harinya. Rabu penggalian sudah dimulai dan nampak bangunan candi berwujud leter L, membujur ke utara 4 meter dan ke barat 1 meter. Menurut Bowo tiga hari sebelum ditemukannya candi itu, dia selalu merasa ingin ke tempat itu. Bowo tidak tahu alasannya, seolah-olah ada magnet yang menariknya bila mengacu pada candi-candi lain yang ditemukan di Klaten, diperkirakan bangunan itu peninggalan dari abad 8 sampai 9.
Langganan:
Postingan (Atom)


